Wednesday, May 8, 2013

6 Aksi Dramatis KPK Buru Koruptor

Filled under:

[imagetag]


Sejak terbentuk, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memiliki tugas berat dalam pelaksanaan hukum di Indonesia, yakni mengungkap pelbagai kasus korupsi. Sebab, korupsi sudah dianggap sebagai penyakit kronis yang dapat mematikan.

Layaknya aparat penegak hukum lain, KPK juga menghadapi berbagai rintangan dalam melaksanakan hukum positif yang berlaku di Tanah Air. Mulai dari proses pengungkapan, penyitaan dan penangkapan.

Dari berbagai aksi yang dilakukan, sejumlah kejadian pernah dialami penyidik KPK ketika akan menangkap dan menahan seorang pelaku korupsi. Masih jelas dalam ingatan ketika penyidik KPK menyambangi Kantor Korlantas Polri di Jalan MT Haryono demi mengungkap kasus korupsi pengadaan simulator SIM beberapa waktu lalu.

Kini, KPK kembali mengalami hambatan ketika akan menyita 5 kendaraan mewah milik mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq. Sejumlah orang mencoba menghadang penyidik dan menghalangi mereka membawa bukti penting dalam kasus suap impor daging.

Apa saja tugas berat yang dijalani KPK? Berikut rangkuman yang ditulis kembali oleh merdeka.com:

1. Penyidik KPK ditabrak Bupati Buol

[imagetag]

Setelah mendapatkan laporan dari masyarakat, tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) langsung terjun menuju Kabupaten Buol untuk melakukan operasi tangkap tangan pada Selasa (25/6/2012). Salah satu target mereka adalah manager perusahaan kelapa sawit PT Hardaya Inti Plantation milik pengusaha Hartati Murdaya, Anshori.

Dalam laporan itu, Anshori akan melakukan penyuapan untuk memuluskan penerbitan surat lahan perkebunan. KPK berhasil menangkapnya di tengah jalan dan membawanya ke Polres Buol.

Tim penyidik melakukan pengembangan dan segera mengejar pihak yang menerima uang suap dari Anshori. Orang itu adalah Bupati Buol, Amran Batalipu. Pria yang divonis 7,5 tahun penjara ini melawan saat akan disergap.

Tanpa diduga, Amran menabrakkan kendaraannya ke mobil KPK dan langsung tancap gas. KPK lantas melakukan pengejaran hingga ke depan rumahnya, namun penangkapan urung dilakukan karena rumah dinas Amran dijaga puluhan pria bersenjata tajam.


2. Jemput Nazaruddin di Cartagena Colombia

[imagetag]

Muhammad Nazaruddin, merupakan terpidana atas berbagai kasus korupsi, penyuapan dan pencucian uang atas dua kasus besar, yakni wisma atlet di Palembang, Sumatera Selatan dan pembangunan kompleks olahraga di Hambalang, Bogor.

Setelah lari di beberapa negara, Nazaruddin berhasil ditangkap interpol di Cartagena, Kolombia, Minggu (7/8/2011). Dia ditangkap saat sedang bersantai dengan Neneng Sri Wahyuni. Penangkapan itu dilakukan karena aparat mendapat laporan penggunaan paspor palsu di wilayahnya.

Kabar penangkapan itu lantas dikonfirmasi kepada Kedutaan Besar Indonesia di Bogota, Kolombia. Penyidik KPK dan Dubes RI untuk Kolombia pun berangkat ke lokasi untuk melakukan penjemputan.

Sehari setelahnya, Nazar dibawa ke Indonesia dengan menggunakan pesawat jet carter dari Bogota menuju Jakarta. Setelah melakukan perjalanan selama 30 jam, Nazar bersama penyidik KPK, Kemenkum HAM dan kepolisian tiba di Halim sekitar pukul 19.30 WIB.

Nazar langsung dibawa menuju Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Setelah beristirahat, makan malam dan berganti baju, Nazar kemudian dibawa ke KPK untuk menjalani pemeriksaan.


3. Melacak Neneng Sri Wahyuni

[imagetag]

Lari bersama suaminya M Nazaruddin, Neneng Sri Wahyuni ditetapkan sebagai buron oleh KPK atas kasus yang sama. Setelah buron selama beberapa bulan, Neneng berhasil ditangkap penyidik KPK di kediamannya kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (13/6/2012).

Neneng diketahui berangkat dari Kuala Lumpur, Malaysia, pada Selasa (12/6/2012) malam, bersama seorang wanita dan dua orang pria berkewarganegaraan Malaysia. Sebelum sampai di Jakarta, rombongan Neneng singgah di Batam terlebih dahulu.

Pada pukul 09.50 WIB, rombongan Neneng berangkat ke Jakarta menggunakan pesawat Citylink dan sampai di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, sekitar pukul 11.30 WIB.

Saat pesawat take off, tim KPK yang mengintai Neneng sejak dari Malaysia, sempat 'selisipan' menguntit Neneng. Penyidik sempat salah duga lantaran Tim KPK menduga Neneng menaiki pesawat Garuda Indonesia. Tim KPK langsung berpencar di sejumlah lokasi yang diduga akan menjadi transit Neneng di Jakarta.

Dari Bandara Soekarno Hatta, Neneng berpisah dari rombongan. Neneng bersama seorang wanita misterius menaiki taksi Blue Bird. Sedangkan Hasan dan Razmi pergi ke Hotel Amir Oasis, di Jakarta Pusat.

Dalam perjalanan, Neneng sempat berputar-putar di Jakarta dan transit di Kemang. Setelah dari Kemang, Neneng menuju ke kediamannya di Pejaten, Jakarta Selatan.

Saat Neneng berada di rumahnya, tim bergerak. Tepat pukul 15.00 WIB, Tim KPK langsung menangkap Neneng tanpa perlawanan. Saat itu, di rumah Neneng terdapat tiga orang termasuk dirinya.


4. Tangkap Nunun Nurbaeti di Thailand

[imagetag]

Terpidana kasus suap pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia, Nunun Nurbaeti ditetapkan sebagai buron setelah pergi berobat ke Singapura dan tak kunjung kembali. Istri mantan Wakapolri Adang Daradjatun ini tergolong kaum sosialita di Jakarta yang suka menghadiri fashion show.

Nunun ditangkap Kepolisian Thailand di sebuah rumah di Bangkok pada Rabu (7/12/11). Penangkapan berlangsung usai otoritas keamanan negara itu melakukan pencarian berdasarkan foto-foto dan berkas dari KPK.

Kepolisian Thailand meneruskan informasi penangkapan itu kepada Mabes Polri dan KPK. Tim dari KPK langsung berangkat menuju negara tersebut pada Kamis (8/12/2011) malam. Setelah melakukan pencocokan data, kedua belah pihak lantas membicarakan mengenai rencana kepulangannya.

Jumat (9/12/11), KPK menuju KBRI di Bangkok untuk mendapatkan surat perjalanan laksana paspor untuk membawa tersangka Nunun ke Indonesia. Sebelum berangkat ke Indonesia, Polisi Thailand melakukan pengawalan ketat terhadap Nunun hingga ke Bandara Svarnabhumi Bangkok untuk diserahkan kepada KPK di pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 867.

Nunun tiba pukul 00.30 WIB pada Minggu (11/12/11) dan dititipkan ke Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur.


5. Ditahan polisi di Korlantas Polri

[imagetag]

KPK langsung bergerak cepat saat mendapatkan informasi mengenai dugaan kasus korupsi pengadaan alat simulator SIM di Korlantas Polri. Lembaga anti-rasuah ini pun mengirim sejumlah penyidik untuk mengambil beberapa dokumen dan alat yang diduga dari hasil korupsi.

Tiba sejak dini hari, ternyata penyidik KPK tidak bisa begitu saja masuk. Mereka ditahan di lobby Korlantas dan tidak bisa bertindak. Kabareskrim Mabes Polri juga menahan mereka untuk tidak mengambil apapun yang berada di dalam unit lalu lintas kepolisian tersebut.

Melihat kondisi yang makin tegang, pimpinan KPK pun turun tangan, mereka melakukan pertemuan dengan sejumlah petinggi polri, termasuk Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo. Meski akhirnya dapat menyita sejumlah berkas, dokumen dan alat bukti namun KPK tidak bisa memeriksa 5 tersangka selain Irjen Djoko Susilo.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun terpaksa turun tangan untuk menengahi masalah yang makin runyam di masyarakat. SBY meminta polri menyerahkan penyidikan sepenuhnya kepada KPK. Kisruh pun berakhir dengan sendirinya.


6. Dihadang saat sita 5 mobil milik Luthfi

[imagetag]

Kerumunan massa yang berkumpul di depan kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) membuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) gagal menyita lima mobil mewah, kelimanya itu sempat disegel pada pagi harinya.

Melihat suasana yang tidak kondusif, KPK memutuskan untuk menarik kembali tim yang melakukan penyitaan. Kelima mobil itu pun dipasang garis KPK (KPK line). Tak diketahui dari mana mereka berasal, dan KPK meyakini mereka bukan kader PKS.

Juru Bicara KPK, Johan Budi SP tetap melakukan penyitaan terhadap kelima mobil mewah itu. Cuma dia tidak menjelaskan kapan hal itu terlaksana.

"Saya belum tahu sejauh mana nanti. Tentu akan disita atau ditarik ke KPK," lanjut Johan.

Mobil-mobil yang disegel KPK di Kantor DPP PKS antara lain VW Caravelle bernomor polisi B 948 RFS, Mazda CX 9 B 2 RFS, Toyota Fortuner B 544 RFS, Nissan Navara, dan Mitsubishi Pajero Sport. Menurut Johan, mobil Mazda CX 9 adalah milik Luthfi Hasan Ishaaq .

Sementara VW Caravelle, Mitsubishi Pajero Sport, Toyota Fortuner, dan Nissan Navara diatasnamakan orang lain, tapi diduga dibeli oleh Luthfi Hasan Ishaaq . Empat mobil atas nama orang lain itu diduga dijadikan kendaraan operasional PKS.

SUMBER


Perjuangan KPK memang berat .... tapi harus tetap berjuang untuk membersihkan Indonesia dari para koruptor jahanam












Postingan menarik lainnya:

0 comments:

Post a Comment