Tuesday, April 23, 2013

Penjara: Neraka rakyat miskin, surga bagi Nazaruddin dan Gayus

Filled under:

[imagetag]

Nazaruddin kembali membuat ulah. Dia meninggalkan rumah tahanan Cipinang dengan alasan berobat ke RS Abdi Waluyo selama sembilan hari. Atas peristiwa ini, Kepala Rumah Tahanan (Karutan) Cipinang Jakarta, Syaiful Sahri, dicopot sementara dari jabatannya.

Alasan berobat menjadi favorit para koruptor untuk meninggalkan sel mereka. Keluar masuk tahanan rasanya sudah jadi rahasia umum.

Tengoklah dulu terdakwa kasus korupsi pajak Gayus Tambunan bisa keluar masuk tahanan semaunya. Saat ditahan di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Gayus bisa menonton tenis di Bali.

Penelusuran Satgas Mafia Hukum kemudian mengungkap Gayus tak cuma berlibur ke Bali. Dia juga pergi ke Singapura, Thailand dan Macau. Dia membuat paspor palsu atas nama Sony Laksono dan bebas melanglang buana.

Di Makau, Gayus mengaku sempat berjudi. Hal itu dilakukan di sela-sela pengobatan. Sementara di negara-negara lain dia menikmati liburan bersama keluarganya.

"Tujuan utama saya ke Makau adalah untuk berobat dan juga main judi tapi hanya sebentar," kata Gayus Tambunan saat disidang di Tangerang, 2011 lalu.

Hal yang mengusik rasa keadilan juga terjadi saat Satgas Mafia Hukum melakukan sidak di ruang tahanan kasus suap jaksa, Artalyta Suryani. Artalyta diberi sel layaknya kamar kos mewah. Lengkap dengan AC, alat fitnes, dan kamar mandi di dalam. Bandingkan dengan satu sel sempit yang bisa dihuni 12 orang.

Buat koruptor di penjara ibarat pindah tidur. Buat yang tidak punya uang, tengoklah betapa mengerikannya hidup di penjara. Mulai dari dihajar senior, diperas, hingga disodomi menjadi momok menakutkan buat setiap tahanan.

Simaklah penuturan Boncel, seorang terdakwa kasus narkoba pada merdeka.com. Ceritanya soal penjara menegakkan bulu roma. Bersama 100 orang lain, dia ditaruh dalam satu kamar sel.

Kekerasan dan Sodomi juga menjadi pemandangan biasa dalam sel. Pemuas seks kepala kamar biasa disapa adik. Sebagai imbalan, adik bakal diperlakukan istimewa, termasuk memperoleh menu makanan sama seperti kepala kamar.

Saat berada di ruang penampungan berisi seratus tahanan, adik dikenal Boncel berparas menawan seperti orang Arab. Kepala kamar biasa menyodomi di balik bilik papan atau lemari. "Gue lupa namanya, tapi dia ganteng, bersih, dan kaya orang Arab," ucapnya.

Boncel pernah memergoki seorang teman satu selnya muntah-muntah setelah dipaksa mengoral alat kelamin kepala kamar. Buser juga kerap minta jatah serupa. Meski demikian, tahanan lain tetap bersikap biasa. Karena takut, mereka memilih pura-pura tertidur pulas.

Betapa kontrasnya dengan Nazaruddin, Gayus Tambunan dan Artalyta Suryani.
[ian]

http://www.merdeka.com/peristiwa/pen...dan-gayus.html


Postingan menarik lainnya:

0 comments:

Post a Comment